Lebaran: Antara Euforia dan Kehilangan yang Terpendam
Other

Lebaran: Antara Euforia dan Kehilangan yang Terpendam

14 December 2025 31 views

Lebaran di Balik Gema Takbir

Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru negeri. Langit malam dihiasi cahaya kembang api, jalanan dipenuhi wajah-wajah ceria, dan rumah-rumah bersinar dengan kebahagiaan keluarga yang kembali berkumpul. Lebaran hadir sebagai momen yang dinanti, simbol kemenangan setelah sebulan penuh menahan diri.

Namun, tidak semua hati bersuka cita.

Bagi sebagian orang, Lebaran bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang kehilangan, tekanan, dan luka-luka lama yang kembali terbuka.

Di balik perayaan yang meriah, ada yang hanya bisa menatap kosong kursi yang kini tak lagi ditempati oleh orang terkasih. Ada pula yang harus menahan air mata di balik senyum yang dipaksakan, karena menyadari bahwa kehangatan yang dulu ada telah pergi bersama waktu.

Mereka yang kehilangan orang tua, saudara, atau pasangan hidup harus menghadapi hari raya dengan kekosongan yang menggigit hati. Suasana yang seharusnya penuh tawa justru menjadi ruang sunyi yang sulit dijelaskan.

Ketika Luka Lama Kembali Terbuka

Lebaran juga kerap menjadi momen yang menguak luka lama. Kewajiban untuk pulang kampung sering kali menjadi pedang bermata dua.

Di satu sisi, ia menghadirkan kebersamaan dan kehangatan keluarga. Namun di sisi lain, ia memunculkan kembali konflik-konflik yang belum pernah benar-benar selesai.

Percakapan di meja makan dapat berubah menjadi pengingat pahit masa lalu. Pertanyaan tentang pekerjaan, pernikahan, dan pencapaian hidup—yang mungkin dianggap sebagai basa-basi—sering kali menjadi tekanan bagi mereka yang masih berjuang menemukan pijakan.

Beban di Tengah Perayaan

Bagi mereka yang berada dalam kesulitan ekonomi, Lebaran justru terasa sebagai beban tambahan. Tuntutan sosial untuk menyediakan hidangan terbaik, membeli pakaian baru, atau memberikan angpao bagi keponakan dan saudara jauh menciptakan tekanan tersendiri.

Tidak sedikit yang terpaksa meminjam uang demi menjaga gengsi, meski di dalam hati merasa tercekik oleh keadaan.

Kemenangan yang Tidak Selalu Sama

Lebaran seharusnya menjadi momentum kemenangan, perayaan bagi jiwa-jiwa yang telah melewati ujian Ramadhan. Namun, kemenangan itu tidak selalu terasa sama bagi semua orang.

Sebagian harus berjuang lebih keras, menelan kepahitan dengan senyuman, dan menghadapi kenyataan bahwa tidak semua luka bisa sembuh hanya dengan gema takbir.

Belajar Lebih Peka

Di tengah kegembiraan yang melimpah, mungkin kita perlu belajar lebih peka. Tidak semua orang memiliki alasan untuk tertawa. Ada hati-hati yang diam-diam menangis dalam sunyi.

Merangkul mereka yang merasa sendirian, menguatkan mereka yang kehilangan, dan memberi ruang bagi mereka yang masih berjuang barangkali itulah makna Lebaran yang lebih utuh. Sebab, di balik kemeriahan hari raya, empati dan kepedulian adalah hadiah paling bermakna.